Langsung ke konten utama

Kisah Wafer Nabati-Menulis Semudah Berkisah

By Eyang Yus St. (Bekasi)

Mahasiswi Publishing Academy


"Ummi, titip 5 bungkus yaa," kataku pada cucu yang mau ke warung dekat rumah.


Kalau tidak sekolah, anak-anak suka kewarung dekat rumah jajan makan kecil yang murah meriah...

Ada aja makanan-makanan yang tidak kukenal dibeli mereka, sering juga kucoba untuk tau apakah sehat buat mereka...

Yang jualanpun pinter untuk memikat minat anak, sering berganti kue-kue yang ditawarkan.

Harganya juga murah sesuai kantong anak...

Misalnya seperti sering kutitip, buat malam klo laper...hehe...

"Nabati" dengan aneka rasa, ada coklat, vanilla, richeese, peach, raspberry, dll

Hanya 2 ribu saja...

👇😋


Eyang Yus adalah penulis berusia 70. Semangat belajarnya sangat luar biasa.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lempeng Pisang

  Oleh Mimi  Mahasiswi Publishing Academy asal Bontang Hari ini seperti biasa aku hendak bersiap membaca majalah al wa'ie edisi bulan ini  Tapi aku butuh teman duduk alias camilan. Biar tambah asyik dan lama baca bukunya. Kulirik meja makan ada sesisir pisang raja. Langsung muncul ide di otakku membuat lempeng pisang makanan khas kampung kami.  Tanpa pikir panjang aku langsung eksekusi. Karena caranya gampang. Pisang cukup di potong dadu atau di tumbuk halus kasi garam dan tepung terigu lalu aduk rata. Setelah itu taruh dan ratakan di atas wajan anti lengket. Tanggar di atas kompor. Masak hingga kecoklatan. Taraa. Jadi deh lempeng pisang jadul.  Rasanya enak, bahannya mudah di dapat. Dan  murah meriah. NB Belajar materi Storytelling--Menulis Semudah Berkisah  Semester#3

Yang Tak Pernah Pergi-Menulis Semudah Berkisah

 *By Fakihah (Bogor)* Peserta Kelas Menulis Semudah Berkisah (Bright Writing Center) "Teh, udah daftar S2 aja, daripada ga ada aktifitas," begitu kata adik laki-laki ku saat sedang makan mie ramen bersama. Seketika mie yang ku seruput terasa hambar. Fikiran ini dibuat bingung. Setiap orang yang kutemui, menuntut aku melakukan sesuatu sesuai kepentingan mereka. "Ngabdi disini saja." "Daftar kerja kantoran aja." Bla, bla.. Bahkan sampai keluar perkataan "Kamu kok gatau hidup kamu mau diapain" Tidak, sama sekali tidak begitu. Aku punya arah hidup yang telah ku canangkan. Aku mau menulis dan merintis usaha sendiri. Aku bukannya tidak ada aktifitas, aku sedang mempersiapkan keduanya.Tak  seorang yang menaruh percaya, apalagi menghargai.  Merasa sendiri dalam perjuangan. Fikiran jahat menghantuiku, "apakah aku salah memilih ? Harus kah aku mengikuti saja apa kata orang? Apakah sebaiknya aku melakukan apa yang orang lain lakukan?" Selepas isya...