Langsung ke konten utama

Yang Tak Pernah Pergi-Menulis Semudah Berkisah

 *By Fakihah (Bogor)*

Peserta Kelas Menulis Semudah Berkisah (Bright Writing Center)


"Teh, udah daftar S2 aja, daripada ga ada aktifitas," begitu kata adik laki-laki ku saat sedang makan mie ramen bersama. Seketika mie yang ku seruput terasa hambar.


Fikiran ini dibuat bingung. Setiap orang yang kutemui, menuntut aku melakukan sesuatu sesuai kepentingan mereka. "Ngabdi disini saja." "Daftar kerja kantoran aja." Bla, bla.. Bahkan sampai keluar perkataan "Kamu kok gatau hidup kamu mau diapain"


Tidak, sama sekali tidak begitu. Aku punya arah hidup yang telah ku canangkan. Aku mau menulis dan merintis usaha sendiri. Aku bukannya tidak ada aktifitas, aku sedang mempersiapkan keduanya.Tak  seorang yang menaruh percaya, apalagi menghargai.  Merasa sendiri dalam perjuangan. Fikiran jahat menghantuiku, "apakah aku salah memilih ? Harus kah aku mengikuti saja apa kata orang? Apakah sebaiknya aku melakukan apa yang orang lain lakukan?"


Selepas isya, aku memohon iba pada Pemilikku. "Duhai Rabbi, aku butuh saran yang membangun, bukan saran yang menggurui. Berbicalah padaku sesuatu, apapun itu ya Allah, engkau lebih faham terhadap aku," gerutuku. Maka dengan mengucap bismillah aku membuka kalam-Nya, berharap ia memberi nasihat yang menghibur. Terbukalah QS. Ad-Dhuha. Ku membacanya perlahan.


Dia berpesan padaku. "Tuhanmu tidak meninggalkanmu, dan tidak pula membencimu. Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, hingga engkau menjadi puas." 


Tangisku pecah. Nasihat yang ternyata jauh lebih baik dari apa yang kubutuhkan. Bukan hanya terhibur, saat itu, aku merasa Dia ada duduk di samping ku. Memahami ku. Detik itu, aku baru sadar bahwa sahabat terbaik ku sejak dulu, yang tak pernah pergi, hanya satu, Tuhanku. 


Engkau segala yang ku butuhkan, Tuhanku, terimakasih.


NB

Blog ini adalah arsip tulisan dari peserta kelas menulis Apu Indragiry


Sengaja tidak diedit, supaya nantinya bisa menjadi tolok ukur sang penulis seiring waktu


Mau Bisa Jadi Penulis?

Kontak ke wa 089658135002



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lempeng Pisang

  Oleh Mimi  Mahasiswi Publishing Academy asal Bontang Hari ini seperti biasa aku hendak bersiap membaca majalah al wa'ie edisi bulan ini  Tapi aku butuh teman duduk alias camilan. Biar tambah asyik dan lama baca bukunya. Kulirik meja makan ada sesisir pisang raja. Langsung muncul ide di otakku membuat lempeng pisang makanan khas kampung kami.  Tanpa pikir panjang aku langsung eksekusi. Karena caranya gampang. Pisang cukup di potong dadu atau di tumbuk halus kasi garam dan tepung terigu lalu aduk rata. Setelah itu taruh dan ratakan di atas wajan anti lengket. Tanggar di atas kompor. Masak hingga kecoklatan. Taraa. Jadi deh lempeng pisang jadul.  Rasanya enak, bahannya mudah di dapat. Dan  murah meriah. NB Belajar materi Storytelling--Menulis Semudah Berkisah  Semester#3

Kisah Wafer Nabati-Menulis Semudah Berkisah

By Eyang Yus St. (Bekasi) Mahasiswi Publishing Academy "Ummi, titip 5 bungkus yaa," kataku pada cucu yang mau ke warung dekat rumah. Kalau tidak sekolah, anak-anak suka kewarung dekat rumah jajan makan kecil yang murah meriah... Ada aja makanan-makanan yang tidak kukenal dibeli mereka, sering juga kucoba untuk tau apakah sehat buat mereka... Yang jualanpun pinter untuk memikat minat anak, sering berganti kue-kue yang ditawarkan. Harganya juga murah sesuai kantong anak... Misalnya seperti sering kutitip, buat malam klo laper...hehe... "Nabati" dengan aneka rasa, ada coklat, vanilla, richeese, peach, raspberry, dll Hanya 2 ribu saja... 👇😋 Eyang Yus adalah penulis berusia 70. Semangat belajarnya sangat luar biasa.